Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Rotasi Tanaman, Solusi Pertanian Yang Berkelanjutan


Tanilokal - Ledakan populasi hama yang menyerang tanaman pertanian sepanjang tahun, berkurangnya kesuburan tanah akibat pengerasan struktur permukaan tanah, hilangnya vegetasi organisme yang bersimbiosis dengan tanaman dan kemampuan serapan air (infiltrasi) oleh tanah. Kejadian tersebut merupakan dampak dari pola budidaya tanaman pertanian yang dilakukan dengan hanya menanam satu jenis tanaman dari famili yang sama sepanjang tahun.

Dengan pola budidaya satu jenis tanaman sepanjang tahun, maka akan dibutuhkan aktifitas pertanian yang tidak lagi alami. Bahkan seringkali merusak habitat organisme tanah yang bersimbiosis dalam menjaga dan meningkatkan kesuburan tanah.

Apabila kita melakukan budidaya satu jenis tanaman sepanjang tahun, maka aktifitas yang mutlak diperlukan meliputi : 
  1. Aktifitas kultivasi (pengolahan) lahan pertanian dengan mesin berat,  
  2. Proses pembalikan tanah saat dilakukan pembajakan, 
  3. Penggunaan bahan kimia sintetis kedalam sistem
Akibatnya setelah panen tanah akan menjadi kering dan mengeras karena terjadpenguapan air serta terjadi proses penggaraman yang diakibatkan oleh penggunaan pupuk kimia sintetis sumber nitrogen dan phospor secara terus menerus.





Tidak adanya cover crop (tanaman penutup tanah) maupun mulsa (sisa tanaman) yang menutupi permukaan tanah menyebabkan penguapan air di permukaan tanah.  Bakteri, jamur, nematoda dan serangga yang berbahaya bagi tanaman akan tumbuh serta berkembang biak dengan sangat cepat. Hal tersebut dikarenakan kondisi lingkungan tidak lagi cocok untuk organisme yang bersimbiosis dengan tanaman.

Solusi Berkelanjutan Yang Alami


Rotasi tanaman dilakukan untuk menjaga kembali keseimbangan populasi organisme tanah dengan merubah kondisi tanah secara fisik, kimia dan biologi sepanjang tahun. Dengan metode tersebut tidak akan terjadi ledakan populasi organisme pathogen yang berbahaya bagi tanaman. Pergantian jenis tanaman yang dibudidayakan setelah masa panen inilah yang akan menghasilkan kondisi yang sesuai bagi aneka ragam organisme yang hidup di dalam tanah. 

Organisme yang bersimbiosis dengan tanaman akan tumbuh dan berkembang dengan baik, sehingga mampu berkompetisi dan menekan populasi organisme pathogen yang berbahaya. Yang perlu diperhatikan dalam penerapan teknik ini adalah kita berusaha untuk mengembalikan kembali residu atau sisa-sisa tanaman yang dihasilkan pasca panen seperti jerami ke lahan pertanian.

Residu tanaman pasca panen apabila disebar dan dibiarkan di permukaan tanah maka akan menjadi sumber makanan bagi organisme tanah. Leguminosa yang ditanam nantinya akan mendapatkan  nutrisi berupa bahan organik humus dari teurainya jerami yang dimakan oleh organisme tanah.


Contoh sederhana dari rotasi dua jenis tanaman yang dapat diterapkan adalah dengan membudidayakan leguminosa sebagai sumber pupuk nitrogen sebelum penanaman jagung atau padi.

Dengan cara tersebut sirkulasi kehidupan organisme tanah dapat berjalan dengan sangat baik dan tanah akan menjadi semakin subur dari tahun ke tahun. Lebih dari itu hama dan penyakit juga akan berkurang.

Bagaimana Cara Melakukan Rotasi Tanaman ?

Terdapat empat jenis famili tanaman pertanian yang paling umum dibudidayakan di Indonesia, yaitu tanaman sereal seperti jagung dan padi. Untuk tanaman sayuran meliputi bayam, sawi (brassica), kubis, brokoli, selada dan seledri, serta tanaman akar yang meliputi wortel, lobak, bawang, ketela dan kentang. Ketiga macam tanaman tersebut merupakan tanaman utama (cash crop) atau tanaman yang dipanen hasilnya sebagai sumber penghasilan. Dimana jenis tanaman cash crop membutuhkan nutrisi  berupa Nitrogen, Phospor dan Kalium dalam jumlah besar.

Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman tersebut maka dilakukan penanaman Leguminosa. Beberapa jenis tanaman leguminosa yang dapat dibudidayakan di daerah tropis antara lain; kacang kedelai, kacang hijau, buncvis, alfalfa, kembang telang (Clitoria ternatea) dan kacang lab-lab (lab-lab purpureus). Legum memiliki kemampuan dalam mengikat nitrogen diudara dirubah menjadi senyawa nitrogen yang mampu diserap oleh tanaman dengan bantuan bakteri rhizobium sp.


Aplikasi penggunaan legum sebagai sumber pupuk organik atau tanaman cover crop adalah dengan cara memotong dan membiarkan hijauan legum di permukaan tanah. Rasio Karbon dan Nitrogen legum yang rendah menyebabkan tanaman legum sangat mudah terurai. Dengan cara tersebut, maka organisme akan mulai memakan residu legum dan diurai menjadi senyawa yang mudah diserap oleh tanaman.

Puncak kandungan nitrogen yang tinggi dalam akar tanaman legum adalah saat memasuki fase generatif atau saat berbunga. Selain itu daun, batang dan bunga dari tanaman legum juga penuh dengan nutrisi sehingga ketika terurai akan menjadi sumber nitrogen, phospor dan kalium yang tinggi.


Dikarenakan jagung dan padi merupakan tanaman yang paling banyak membutuhkan nitrogen, maka penanaman leguminosa dilakukan sebelum jagung dan padi. Sedangkan untuk memperbaiki struktur fisik tanah, maka dilakukan budidaya tanaman akar-akaran setelah penanaman sayuran. Untuk tanaman buah-buahan seperti semangka dan melon dapat ditanam dengan sistem tumpangsari dengan tanaman akar-akaran.


Yang perlu diingat adalah selalu mengembalikan residu tanaman di permukaan tanah dan mengurangi proses kultivasi seperti membajak atau membalik tanah agar tidak mengganggu habitat dan rumah dari organisme yang telah tumbuh dan berkembang di dalam tanah.
Program tersebut diulangi setiap tahun, sehingga kondisi tanah akan sesuai bagi beraneka macam organisme tanah, yang pada akhirnya dapat menekan perkembangan organisme pathogen sumber hama dan penyakit yang tumbuh dengan baik pada kondisi lahan yang hanya dilakkan budidaya dari satu jenis tanaman yang sama sepanjang tahun.

Untuk tanaman buah perenial (tahunan) seperti anggur, apel mangga, jeruk dan sebagainya, yang paling baik adalah dengan menanam leguminosa, brassica dan rerumputan. penanaman cover crop tersebut diilakukan dengan cara rotasi bergilir sebagai tanaman penutup tanah. Cover crop tersebut akan meningkatkan kandungan bahan organik, menekan pertumbuhan organisme pathogen, semak (weed), mengundang serangga predator yang akan memakan hama tanaman dan memperbaiki struktur tanah. Sehingga aplikasi rotasi cover crop dapat menekan penggunaan pupuk kimia sintetis, pestisida, herbisida dan kultivasi tanah akibat pengerasan permukaan tanah.

Share ke temanmu apabila bermanfaat. Thanks for reading...

Sumber : 
Mohler, L., Johnson, E. 2009. Crop Rotation on Organic Farms. Natural Resource, Agriculture, and Engineering Service. Cooperative Extension. Ithaca, NY 1485-4557.
FlorentiN, M A., Penalva, M., Calegari, A., Rolf, D. 2011. Green Manure/Cover Crops and Crop Rotation in Conservation Agriculitiure on Small Farms. 

Gambar :
http://agfax.com/wp-content/uploads/corn_soybeans_DF_20140620_0201-890x395.jpg
http://cdn.jitunews.com/dynamic/article/2015/05/05/13451/6YuHh0VWGh.jpg?w=630
http://inweh.unu.edu/wp-content/uploads/2015/06/saline-water.png
http://www.barroncountywi.gov/vertical/Sites/%7B55B35465-9825-4C7F-A839-E0EDFC6408E8%7D/uploads/%7B3FC2EE4B-1485-49DC-A4D2-02AFAB7C10E2%7D.JPG
http://agserviceseeds.com/wp-content/uploads/2014/09/alfalfa.jpg

Post a Comment for "Rotasi Tanaman, Solusi Pertanian Yang Berkelanjutan"