Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PELUANG BISNIS DAN PERSIAPAN BUDIDAYA UDANG

https://tipspetani.blogspot.com/2019/02/peluang-bisnis-dan-persiapan-budidaya.html

Dari beberapa info dasar yang telah diuraikan di bagian sebelumnya, kini saatnya kita melihat beberapa hal terkait budidaya udang vaname sekaligu peluang usaha dari budidaya tersebut.

Dari beberapa metode budidaya udang vaname, artikel ini membahas satu metode yang paling sederhana, murah biayanya, dan hasil udangnya justru malah diminati oleh pasar, yakni budidaya udang vaname dengan mengggunakan tambak udang.

Untuk membudidayakan udang vaname, langkah-langkah yang harus dipersiapkan bisa dibilang gampang-gampang susah. Yang jelas, kamu butuh modal besar untuk memulai usaha ini. 

PERSIAPAN YANG DIPERLUKAN UNTUK BUDIDAYA UDANG

Tambak Udang

Dari berbagai macam cara budidaya udang, hal yang laing penting yang harus dipersiapkan adalah tempatnya. Setidaknya ada tiga macam lahan untuk membudidayakan udang, yaitu tambak udang, kolam beton, dan kolam terpal. Dari ketiga jenis lahan tersebut, tambak udang merupakan lahan tertua yang dipercaya mampu menghasilkan panen yang berlimpah.

Dari segi hasil, tambak udang seringkali menghasilkan udang dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan udang yang dibudidayakan di kolam. Namun sayangnya, pengolahan tambak udang jauh lebih sulit dibandingkan dengan kolam. Membudidayakan udang dengan sistem tambak dikenal sebagai cara tradisional dalam membudidayakan udang.

Sederhananya, tambak udang merupakan lahan untuk membudidayakan udang yang dibuat sedekat dan semirip mungkin dengan habitus asli udang yang dibudidayakan. Untuk udang windu dan udang vanama, tambak udang biasanya dibuat di daerah pesisir yang airnya memiliki kadar garam tinggi atau payau.

Membuat tambak udang tidak sesederhana seperti membuat lubang di tanah lantas mengisinya dengan air dan menabur benih udang. Tidak demikian. ada beberapa tahap yang harus dipersiapkan untuk membuat tambak udang.

Biasanya, tambak udang di buat di daerah pesisir yang digenangi air. Genangan itu diperdalam dan dibuat kapling-kapling. Idealnya, setiap kapling memiliki luas 2000-2500 meter persegi.

Tahap awal setelah kapling-kapling tersebut jadi adalah mengeringkan total tiap-tiap kapling yang akan dijadikan lahan. Pengeringan ini dilakukan selama beberapa hari hingga permukaan tanah berubah menjadi kering dan pecah-pecah.

Fungsi pengeringan lahan ini adalah untuk membunuh hama-hama yang akan menyerang udang nantinya seperti ikan, kepiting, dan zat amoniak beracun penyebab kematian pada udang. Setelah lahan kering, lahan harus dicangkul terlebih dahulu untuk membalik posisi tanah.

Setelah itu, seluruh permukaan kapling ditaburi dengan pupuk kandang, kapur dolomit pertanian, zat penyerap racun seperti zeolite dan zeoplankton.

Tahap selanjutnya, setelah tahap persiapan tanah selesai adalah pengisian air. Karena air yang dipergunakan adalah air disekitar lahan, maka diperlukan penyaringan untuk menghindari kemungkinan adanya ikan yang terbawa masuk ke tambak.

Setelah air terisi, bukan berarti benur atau benih udang bisa ditaburkan, genangan air ini harus ditunggu 2-3 minggu lamanya hingga plankton hidup subur di lahan tersebut. Plankton ini merupakan pakan alami udang sekaligu pakan cadangan jika pemberian pakan buatan masih kurang.

Menabur Benih Udang

Untuk membudidayakan udang vaname di tambak udang, maka pertama-tama yang harus dilakukan adalah mempersiapkan lahan sebagaimana telah dijelaskan di bagian sebelumnya. Langkah selanjutnya adalah pemilihan bibit udang alias benur.

Tentu saja kita akan kesulitan untuk memilih bibit udang satu-per satu demi mendapatkan bibit yang berkualitas kan?

Tapi sepertinya hal ini tidak mungkin kita lakukan lantaran kita tidak membeli satu atau dua ekor saja, melainkan ribuan. Maka dari itu, silahkan membeli bibit udang di tempat-tempat yang sering direkomendasikan banyak petani udang.

Jumlah benih yang harus dipersiapkan selalu menyesuakan luas lahan yang kita miliki. Biasanya, perbandingan ideal untuk jumlah benih dengan luas lahan adalah 100 ekor udang per meter.

Sehingga, jika kita memiliki lahan 2500 meter persegi, artinya lahan tersebut mampu menampung 250.000 ekor udang. Pastikan kamu memilih benih yang berusia sekurang-kurangnya satu minggu setelah penetasan.

Hal penting yang harus dilakukan ketika menabur udang bisa kita lakukan sebagaimana biasanya dilakukan oleh petani tradisional, yakni benih udang dimasukkan bersamaan dengan kantong plastiknya.

Diamkan dulu selama 15 menit agar udang tersebut beradaptasi dengan suhu tambak. Setelah itu, silahkan buka kantong plastik dan biarkan udang-udang tersebut bebas berkeliaran.

Pemberian Pakan udang

Hingga udang berusia 70 hari, kita tidak perlu memberi mereka pakan buatan. Mereka cukup kenyang dengan memakan plankton yang hidup di tambak.

Maka dari itu, kita harus selalu menjaga ketersediaan plankton dengan cara menabur pupuk kandang dan prebiotik seminggu sekali untuk menjaga populasi plankton dalam tambak. Pastikan juga untuk selalu menjaga volume dan ph air agar udang merasa nyaman.

Setelah 70 hari, barulah kita memberikan pakan ekstra berupa pelet udang agar udang yang sudah mulai tumbuh besar tidak kelaparan dan mulai menyerang satu sama lain.

Bagaimanapun juga, udang yang mulai tumbuh besar tidak akan cukup kenyang dengan makan plankton saja. Baru ketika udang berusia 120 hari atau kurang dari itu, udang sudah bisa mulai dipanen. Biasanya udang yang berusia ini memiliki bobot 1 kg per 50 ekor.

Pemanenan Udang

Waktu yang baik untuk memanen udang vaname adalah malam hari, namun bukan berarti udang ini tidak bisa dipanen pada siang hari. Tetap bisa kok. Udang bisa dipanen dengan menggunakan jala tebar atau jaring yang ditarik oleh 3-4 orang. Teknik penangkapan semacam ini tentunya akan menyisakan udang di tambak.

Penangkapan total hanya bisa dilakukan dengan cara pengeringan tambak sekaligus untuk mempersiapkan kembali lahan untuk bibit selanjutnya.

Estimasi Biaya Yang Diperlukan

Misalnya kita hanya membudidayakan udang dalam skala kecil, yakni dengan lahan seluas 2500 meter persegi dengan kapasitas 250.000 ekor udang, kita bisa mulai memperkirakan seluruh biaya produksi nantinya. Namun kita perlu tahu terlebih dahulu berapa kira-kira pendapatan yang bisa kita peroleh ketika panen nantinya.

Pada masa panen, kita tidak akan mendapatkan jumlah udang yang sama seperti ketika kita dulu menebarnya. Dalam budidaya udang, selalu ada hitungan kematian. Normalnya jika panen sukses, kematian selama pembudidayaan udang adalah 10%. Artinya, per 250.000 ekor benih kita hanya akan memanen sekitar 225.000 ekor saja nantinya.

Jika kita memanen dengan bobot udang ukuran 50 ekor per kilo lalu menjualnya dengan harga 50.000 rupiah per kilo, berapa hasilnya ya? Rumusnya adalah (225.000:50)x50.000= 225.000.000 rupiah.
Tapi berapa biaya produksinya?

Mari kita hitung dengan membengkakkan biaya produksinya

Persiapan lahan

  • Sewa lahan: 3.000.000
  • Tenaga penggarap lahan: 1.500.000
  • Pupuk dan zeoplankton: 6.000.000
  • Pengairan: 1.000.000
  • Peralatan: 5.000.000
  • Lain-lain: 5.000.000
Pembibitan
  • Bibit: 2.500.000
  • Tenaga: 500.000
  • Lain-lain: 500.000
Operasional Perawatan
  • Tenaga: 6.000.000
  • Pakan: 5.000.000
  • Pupuk dan zeoplankton: 3.000.000
  • Lain-lain: 5.000.000
Operasional Pemanenan
  • Tenaga: 4.000.000
  • Lain-lain: 1.000.000

TOTAL BIAYA PRODUKSI: 49.000.000
Dari perhitungan kasar semacam itu dengan menambah angka pada jumlah produksi dan mengurangi angka pada penjualan, kita masih bisa mendapat untung ratusan juta.

Dari pendapatan sebesar 225.000.000-49.000.000 kita masih bisa untung sebesar 176 juta rupiah. Kalaupun kita potong lagi separo untung kita, tentu kita masih sangat untung hanya dalam waktu tiga bulan saja.

Nah, bagaimana menurutmu mengenai keuntungan hitungan bisnis ini? Menguntungkan bukan? Kita hanya perlu berani mencoba saja kok. Itupun kita bisa menyewa orang sebagai tenaga operasional.
https://tipspetani.blogspot.com/2019/02/peluang-bisnis-dan-persiapan-budidaya.html

Post a Comment for "PELUANG BISNIS DAN PERSIAPAN BUDIDAYA UDANG"